Gangguan bicara (speech delay) pada anak merupakan keluhan yang sering disampaikan oleh orangtua. Keterlambatan bicara pada anak di Indonesia sekitar 13-18%. Data dari rumah sakit Dr. Kariadi didapatkan 2,98% anak memiliki ganguan perkembangan bahasa. Sekitar 8,1% dari 13.010 anak di Bali mengalami gangguan perkembangan dan salah satunya adlaah gangguan perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa dapat mempengaruhi kemampuan kognitif anak yang aakan berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Terlambatnya kemampuan bicara anak dapat juga menyebabkan anak kesulitan dalam menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Keterlambatan bicara pada anak dapat berupa berbicara tidak jelas, lambat mengutarakan isi pikiran dengan kalimat, dan kesulitan dalam mengembangkan kosakata untuk berkomunikasi.

Stimulasi dari lingkungan mempengaruhi kemampuan bahasa anak. Jika anak tidak sering diajak berkomunikasi tentang segala sesuatu di lingkungan sekitaranya akan membuat anak sulit memahami yang terjadi pada lingkungannya. Pada era digital saat ini, orangtua sering memberikan media elektronik bagi anaknya dengan harapan meningkatkan kosakata anak dengan menonton TV atau youtube. Orangtua masih mengganggap anaknya akan mempelajari lebih banyak kosakata dengan menonton TV atau youtube yang telah dipilihkan. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa yang mempengaruhi kemampuan bahasa anak lebih terletak pada interaksi dan komunikasi antara orangtua dengan anak. Jika anak dibiarkan menonton TV, bermain gadget, atau menonton tayangan youtube tanpa ditemani orangtua akan menimbulkan kebingungan pada anak karena komunikasi yang terjadi hanya satu arah. Interaksi dan komunikasi yang dibantu dengan media digital sebaiknya bersifat dua arah, sehingga kemampuan bahasa anak dapat terstimulasi dengan adanya peran dari orangtua.

Pemahaman orangtua tentang mengenali gejala gangguan bicara pada anak perlu ditingkatkan untuk mencegah keterlambatan bicara yang mengarah kepada gangguan kognitif pada anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, sebagai perawat anak mempunyai peran yang besar dalam upaya membantu anak-anak dan orantua untuk mengoptimalkan perkembangan anak salah satunya adalah perkembangan bahasa. IPANI merupakan salah satu organisasi perawat seminat di bidang anak yang dapat dijadikan suatu wadah untuk membantu anak-anak dan mengatasi berbagai permasalahan kesehatan yang mereka alami.  Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2017, Ikatan Perawat Anak Indonesia (IPANI) Provinsi Bali ingin mengadakan seminar yang mengusung tema Waspada Gangguan Bicara Pada Anak di Era Digital.

Seminar ini dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2017 di Hotel Nikki Denpasar dari pk. 08.00-14.00 Wita. Peserta seminar “Waspada Gangguan Bicara di Era Digital” ini berjumlah 428 orang. Para peserta terdiri dari perawat baik dari RS pemerintah, RS swasta, maupun klinik swasta, mahasiswa keperawatan, serta dosen dari institusi pendidikan. Acara dibuka dengan tari Cendrawasih sebagai tarain pembuka, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars PPNI. Acara dilanjutkan dengan laporan dari ketua panitia, sambutan dari ketua IPANI, dan sambutan sekaligus membuka acara oleh Ketua DPW PPNI Provinsi Bali yang diwakilkan oleh Ns. Wayan Suardana.  Acara dilanjutkan ke sesi seminar yang dipandu oleh moderator Ns. NLK Sulisnadewi, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.An. Materi pertama diberikan oleh Ns. Made Rismawan, S.Kep., MNS tentang mengenal Speech Delay.  Materi yang diberikan membahas tentang indikator capaian Indonesia sehat, Masalah Kesehatan Anak di Indonesia, dan dilanjutkan dengan pemaparan tentang gangguan bicara pada anak.

Materi kedua diberikan oleh Ns. Dian Adriana, S.Kep., M.Kep tentang deteksi dini dan stimulasi untuk mencegah gangguan bicara. Materi yang diberikan membahas tentang kondisi normal perkembangan bicara dan bahasa pada anak, cara mendeteksi secara dini gangguan bicara dan bahasa pada anak menggunakan KPSP dan DDST, serta stimulasi yang dapat diberikan pada anak sesuai dengan usianya. Peserta antusias mendengarkan kedua materi yang diberikan terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta saat sesi diskusi. Acara diakhiri dengan pembagian doorprize dari pihak sponsor antara lain dari PT Nestle, Morinaga, dan Viva Generik.