Big Data adalah istilah umum untuk segala kumpulan himpunan data dalam jumlah yang sangat besar dan kompleks sehingga menjadikannya sulit untuk ditangani atau di proses jika hanya menggunakan manajemen basis data biasa atau aplikasi pemroses data tradisional. Prinsip dari Big Data adalah bagaiman menganalisis dan membuat struktur dari data berukuran besar sehingga dapat menjadi data yang memiliki makna untuk perbaikan sistem yang kontinyu (HIMSS Nursing Informatics Community, 2015). Secara garis besar big data dapat dibagi menjadi dua yaitu Structured Big Data (data dimasukkan oleh orang tertentu kedalam form yang terstruktur dengan tujuan tertentu), dan Untructured Big Data (data terserak di dunia maya, misalnya di google, dan media social).

Gambar dari: http://www.shineinfotech.com.au/big-data/

 

Era kekinian sangat terkait dengan Era generasi Z yang tidak terlepas dari penggunaan internet. Mudah dan murahnya teknologi ini membuat penggunaan internet begitu massif. Tidak terkecuali dibidang kesehatan. Konsumerisme di bidang kesehatan tidak terlepas dari tren peralihan dari era manual ke era digital berbasis internet.

Industri kesehatan di Indonesia sangat besar dan menjanjikan. Indonesia. Indonesia memiliki 2097 rumah sakit dan 27 ribu lebih puskesmas di Indonesia (Dirjen Bina Upaya Kesehatan, Kemkes Ri, 2016). Angka kunjungan pasien (yang terlapor di online database kemenkes) tidak kurang dari 3 juta kunjungan per tahun. Fenomena yang ada saat ini, khususnya di Indonesia, pengelolaan pasar yang besar ini masih belum diimbangi dengan penggunaan teknologi. Salah satu contoh misalnya penggunaan pencatatan data secara manual dengan menggunakan kertas.

Perawat sebagai salah satu profesi kesehatan menyumbang missefisiensi tersebut. Menurut sebuah artikel seorang perawat dapat menghabiskan waktu >2,5 untuk menulis. Dengan kata lain lebih dari 25% waktu dinas seorang digunakan untuk menulis. Tidak hanya itu metode manual ini dapat menghabiskan kertas dan menjadikan tidak ramah lingkungan. Penyimpanan data membutuhkan ruang lebar dan boros tempat. Keamanan data lemah, dan data sulit di “panggil” ulang.

Dari sisi pelayanan, pembuatan kebijakan, peraturan, baik tingkat nasional maupun tingkat local/unit masih didasarkan pada sampling data dengan kecenderungan rasio kecil, masukan pakar, dan pertimbangan birokrat. Namun belum mampu melakukan analisis data riil di pasar dengan menggunakan prinsip analisis “Big Data”. Analisis riil dapat dilakukan dengan melalui database catatan medis (Structured Data) dan juga data di media social klien (Unstructured Data). Analisis yang komprehensif dengan cara analisis Big Data tentu akan menghasilkan data yang lengkap, utuh, sehingga dapat digunakan untuk pijakan pembuatan keputusan yang lebih baik. Bagaimanapun klien didunia kesehatan adalah manusia -sebagai mahluk social- yang selalu dinamis dan berubah. Tidak ada satu teoripun yang absolut untuk mewakili perilaku manusia. Sehingga analisis berbasi Big Data dirasa lebih mampu mewakili analisis data yang manusiawi.

Topik Big Data berkembang pesat sejak era komputerisasi dan internet. Di dunia kesehatan penggunaan Big Data banyak dikembangkan pada area Bioinformatic untuk analisis Genom.

Penggunaan Big Data didunia keperawatan dikembangkan pada tahun 2014. Potensi optimalisasi Big Data dapat digunakan untuk menganalisis trend pasien, promosi kesehatan, dan meningkatkan kualitas pelayanan melalui pengembangan Evidance-based Nursing yang didasarkan pada analisis Big Data klien (Sensmeier, 2015).

Saat ini dunia keperawatan di Indonesia belum tampak menangkap peluang penggunaan teknologi ini. Namun kedepan pasti akan kita temukan manfaatnya. Artikel ini dapat dijadikan pembuka wahana pengetahuan yang membutuhkan telaah lebih lanjut untuk menemukan aplikasi Analisis Big Data  dalam dunia keperawatan, terlebih Keperawatan Anak di Indonesia (D/E).