Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini tidak lagi hanya mengancam para remaja yang rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Eksploitasi seks pada anak dibawah umur nyatanya juga sering terjadi oleh orang-orang terdekat yang bahkan dilakukan oleh keluarga korban sendiri. Meningkatnya kasus kekerasan merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari tahun pertama oleh orang tuanya. Tetapi persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas.

2

Angkake kerasan seksual pada anak di Bali meningkat mencapai 50% per tahun sejak tahun 2012 (Tempo, 2015). Menurut Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali, kekerasan seksual pada anak di Bali, terus meningkat. Anak tidak hanya menjadi korban tetapi justru juga menjadi pelaku kekerasan seksual. Data yang diperoleh melalui kerjasama dengan institusi kepolisian di Bali,kekerasan seksual pada anak melonjak di tiga kabupaten, yakni Buleleng, Jembrana dan Bangli. Rata –rata anak yang mengalami korban kekerasan seksual pada anak yang berusia 10 sampai 16 tahun (Balipost, 2016).

Pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan. Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. Tetapi yang terjadi di lapangan justru orang tua bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini kepada anaknya. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks akan diperoleh anak seiring berjalannya usia ketika ia sudah dewasa nanti. Mereka seolah menyerahkan pendidikan seks kepada pihak sekolah sebagai sumber ilmu bagi anaknya. Padahal pendidikan seks sendiri belum diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah. Kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kebutuhan anaknya sendiri dalam mengahadapi tuntutan zaman yang semakin berkiblat ke arah barat menjadi faktor utama belum tersampaikannya pendidikan seks sejak usia dini di lingkup keluarga.

Seminar dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Juli 2016 dimulai pukul 08.30 di aula Hotel Hotel Nikki Jl. Gatot Subroto IV no. 18, Denpasar. Undangan yang menghadiri antara lain : Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bali, Ketua PPNI Propinsi Bali, Ketua IBI Propinsi Bali, Kepala BKKBN Propinsi Bali, Ketua KBPP Kabupaten Gianyar, Kepala BP3A Propinsi Bali. Acara ini diisi oleh beberapa pemateri yang kompeten diantaranya Ibu Irene F Mongkar (pemerhati anak), Arist Merdeka Sirait (Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia), dan Ibu Heni Ekawati, Ners., M.Kep (Dosen Keperawatan Anak). Acara berjalan dengan lancar, semarak dan diakhiri dengan penyerahan cidera mata pada masing-masing pemateri.